Pages

Subscribe:

Featured Posts

Kisah Hikmah, Jeruk Busuk Rasa Manis

Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, “Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?”

Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.

Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.

Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, “Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?” suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.

Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya? Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. “Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,” kata si Ayah kepada keluarganya.

Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.

Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, “Jeruk asam begini kok dibawa…”

Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli sepeti jeruk manis dan segar.

Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

Bayu Gawtama

sumber
Lanjutkan

cinta yang tersakiti

Reo dan July adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga July berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.

Dalam kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July. Reo telah melipat 1000 buah burung kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada July. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada July.

Suatu hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Reo berkata kepada July: “ July, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “

Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : “Reo, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!” Saat mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatai July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo meninggalkan July menangis seorang diri.

Reo mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Reo menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah bintang kesuksesan.

Suatu hari Reo pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua July. Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua July.

Reo sangat terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July dalam makam itu. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orang tua July.

Orang tua July pun berkata kepada Reo :”Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua July menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Reo.

Reo membaca surat itu. “Reo, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Reo, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu
Reo…………………………..

July “ Setelah membaca surat itu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan. July telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.

Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita.

Lanjutkan

Sandal Jepit Istriku

Omah KerudungSelera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

"Ummi... Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!" Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

"Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

"Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!" Jawabku masih dengan nada tinggi.

Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

"Ummi... Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ummi... isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?"

Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. "Ah...wanita gampang sekali untuk menangis," batinku. "Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng," bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

"Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucap isteriku diselingi isak tangis. "Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda..." Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

***

Bi..., siang nanti antar Ummi ngaji ya...?" pinta isteriku. "Aduh, Mi... Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku.
"Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan," jawab isteriku.
"Lho, kok bilang gitu...?" selaku.
"Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi.

"Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja," jawabku ringan.

***

Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. "Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu," aku membathin.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. "Oh....bukankah ini sandal jepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

"Maafkan aku Maryam," pinta hatiku.

"Krek...," suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidah (*) ku!" pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya."

Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

"Maryam...!" panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

"Abi...!" bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
"Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?" sesal hatiku.

***

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahu...," ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan 'iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

(Oleh : Yulia Abdullah)

Keterangan
(*) mujahidah : wanita yang sedang berjihad
(**) zuhud : membatasi kebutuhan hidup secukupnya walau mampu lebih dari itu
(***) ‘iffah : mampu menahan diri dari rasa malu
omah kerudung
Lanjutkan

Aku Menangis Untuk Adikku 6 Kali

Aku menangis untuk Adikku 6 kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi." Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?

Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan
rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat
itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras
turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu
sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya
kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia
hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari: "I cried for my brother six times"

omah kerudung
Lanjutkan

“Sekeranjang Air”

Sekeranjang Air

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan ban­­tahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl/16: 125)

 Alkisah, tersebutlah seorang kakek yang dikenal sangat rajin membaca Alquran setiap pa­gi. Dia selalu duduk di meja dapur dan membaca Alquran. Cucu laki-lakinya mencoba meniru sang kakek, dengan membaca Alqur­an setiap pagi.

”Kakek, saya mencoba membaca Alquran seperti Kakek, tapi saya tidak pernah bisa me­ngerti. Setiap saat, saya membaca untuk memahami, tapi setiap saya selesai membacanya dan menutup Alquran, saya selalu lupa lagi. Apa untungnya membaca Alquran?”

 Sang kakek terdiam sejenak, dan sejurus kemudian menjawab, ”Tolong ambilkan air dari sungai dengan keranjang ini, dan bawakan Kakek sekeranjang air.”

Sang cucu pun kemudian menuruti apa yang dikatakan oleh si kakek. Dia lalu mengambil air dari sungai dengan keranjang. Namun, apa yang diperolehnya? Air yang diambilnya dengan ke­ranjang tadi selalu merembes ke luar dan habis sebelum dirinya sampai di rumah.

Si kakek tertawa tanpa mau menolongnya. Dikatakannya kalau sang cucu harus lebih ce­pat bergerak lain waktu.

Benar saja. Sang cucu di lain waktu kembali mencoba mengambil air dengan keranjang dan berlari lebih cepat agar air dalam keranjang itu tidak habis sia-sia. Namun, lagi-lagi tetap sa­ja keranjang kosong sebelum dia sampai di rumah. Kehabisan napas, sang cucu mengatakan ka-lau dirinya tidak mungkin membawa sekeranjang air.

Untuk memuluskan niatnya mendapatkan kecukupan air, si cucu sekali lagi mencobanya. Namun, ia kali ini mengambil sebuah ember untuk mengambil air. Lantaran tahu maksud cucu­nya, sang kakek langsung berkata, ”Kakek tidak mau seember air, tapi yang Kakek maui adalah se­keranjang air. Sungguh kamu tidak cukup berusaha keras, Cucuku.”

Meski tahu bahwa hal itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, sang cucu tetap mem­ba­wakan sekeranjang air dengan berlari secepat mungkin. Untuk yang terakhir kalinya, usahanya te­­tap tidak membuahkan hasil seperti harapannya. Air yang diambilnya dengan keranjang ter­se­but habis sebelum sampai ke rumah.

”Kakek…, apa yang saya lakukan ini sama sekali tidak ada gunanya!” cetus si cucu, de­ngan nada sedikit kesal.

Dengan lemah lembutnya, tanpa rasa amarah sang kakek itu hanya tersenyum. Ia tidak la­ma kemudian berujar, ”Jadi, kamu pikir, ini tidak ada gunanya? Coba kamu per­ha­tikan keranjang ini baik-baik, Cu….”

Sang cucu memperhatikan keranjang yang dibawanya, dan untuk pertama kalinya dia ter­sa­dar, dan takjub bahwa keranjang yang ada di tangannya itu kini terlihat sangat berbeda seka­rang. Keranjang sudah berubah, dari keranjang yang kotor menjadi keranjang yang sangat bersih sekarang, baik bagian luar maupun bagian dalamnya.

”Cucuku, itulah yang terjadi saat kita membaca Alquran. Engkau mungkin tidak dapat mengerti dan mengingat segalanya, tapi ketika membacanya, engkau akan berubah menjadi lebih ber­sih, baik luar maupun dalam. Itulah yang dilakukan Allah SWT untuk hidupmu.”

Hikmah yang bisa diambil dari kisah yang sederhana ini adalah bo­leh jadi ki­ta tidak me­ngerti maupun tidak memahami sama sekali arti saat kita membaca Alqur­an. Na­mun, ke­tika kita membacanya, tanpa kita sadari kita akan berubah, luar dan dalam.

Di peng­ujung tahun ini mari kita berupaya untuk hijrah menjadi lebih baik, dengan men­syu­kuri se­mua nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita. Salah satu ungkapan rasa syu­­kur itu ada­lah dengan membaca Alquran untuk memperoleh rakhmat-Nya agar kita menjadi insan yang le­­bih baik, le­bih bersih, lu­ar dan dalam. Insya Allah. Wallahualam bisawab. (Teks: yudiana)

NOOR
Lanjutkan

arti sebuah dukungan

Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan.
Malangnya, dua di antara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. Kodok-kodok yang lain mengelilingi lubang tersebut.
Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berkata pada kedua kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati.cry

Kedua kodok tersebut mengacuhkan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok yang lainnya tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.devil mad
Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah.

Dia terjatuh dan mati. Sedang kodok yang satunya tetap melanjutkan untuk melompat sedapat mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok tersebut berteriak padanya agar berhenti berusaha dan mati saja.
Dia bahkan berusaha lebih kencang dan akhirnya berhasil.yes yes party
Akhirnya, dengan sebuah lompatan yang kencang, dia berhasil sampai di atas.
Kodok lainnya takjub dengan semangat kodok yang satu ini, dan bertanya "Apa kau tidak mendengar teriakan kami?"yes
Lalu kodok itu (dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahwa ia tuli.happy jester

Akhirnya mereka sadar bahwa saat di bawah tadi mereka dianggap telah memberikan semangat kepada kodok tersebut.
Apa yang dapat kita pelajari dari ilustrasi di atas?
Kata-kata positif yang diberikan pada seseorang yang sedang "jatuh" justru dapat membuat orang tersebut bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari. Sebaliknya, kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang "jatuh" dapat membunuh mereka. Hati hatilah dengan apa yang akan diucapkan.wink wink

Suarakan 'kata-kata kehidupan' kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa 'kata-kata kehidupan' itu dapat membuat kita berpikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan.
Semua orang dapat mengeluarkan 'kata-kata kehidupan' untuk membuat rekan dan teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit dari keputus-asaanya,
kejatuhannya, kemalangannya.
Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk memberikan spirit bagi mereka yang sedang putus asa dan jatuh.

So................ Please don't give up !!!
If you try to do the best thing,
must be some day...... you
by : http://webcache.googleusercontent.com
Lanjutkan

10 Kesalahpahaman Tentang Islam

1.Islamic Terrorism
Misconception: Islam adalah teroris

Ini jauh kesalahpahaman Islam terbesar, tidak adil yang diberikan oleh masyarakat dan stereotyping gambar yang memberikan media. Has anyone else noticed cara tertentu ketika sekelompok orang menyerang orang lain kelompok ini diberi label sebagai 'hate crime', tetapi ketika seorang Muslim terbuka untuk siapa saja api cepat itu dianggap sebagai 'terorisme'. Banyak dictators politik dan para pejabat atau kelompok-kelompok ekstremis menggunakan nama Islam sebagai strategi untuk mengumpulkan pengikutnya dan perhatian ketika banyak dari mereka menentang praktek-praktek yang benar dasar Islam. Media juga digambarkan Islam sebagai agama atau sebuah klub di mana anda jika anda bergabung menjadi teroris dan yang kini bagian dari agenda. Namun di seluruh dunia praktek orang Islam di formulir yang benar dan menggunakannya sebagai cara hidup. Ada banyak ayat dalam Quran yang bertentangan dengan ide terorisme. Beberapa ayat-ayat termasuk "berperang di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi tidak melampaui batas Tuhan tidak suka batas." Ini berarti pada dasarnya tidak berperang kecuali dalam pembelaan diri dan bahkan dalam hal tersebut tidak pergi jauh pertahanan. Ayat lain menyatakan "jika mereka mencari perdamaian, maka anda mencari perdamaian," yang berarti tidak menyerang orang tanpa alasan atau bersalah membunuh orang. Tak ada dalam Islam, apakah ada di Quran atau ajaran Muhammad, yang mendorong pembunuhan orang bersalah. Digambarkan di atas adalah sebuah konferensi yang melawan Terorisme Islam.

2.By the sword
Kesalahpahaman: Islam telah menyebar oleh pedang

Sejarawan De Lacey O'Leary menyatakan "Sejarah membuatnya jelas bahwa legenda yang fanatik Islam melalui sweeping dan memaksa dunia Islam pada titik di pedang setelah menaklukkan ras adalah salah satu yang paling fantastically mustahil sejarahwan mitos yang pernah diulang. "Tidak ada dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa orang yang dipaksa oleh pedang untuk masuk Islam. Ketika Islam menyebar melalui negara-negara mereka akan menyiapkan pribadi gereja dan sinagog untuk non muslim mereka dan pemerintahan yang baik karena mereka telah menerima perlakuan mereka sendiri akan dikonversi. Jika satu menganggap kecil jumlah umat Islam yang pada awalnya penyebaran Islam ke barat semua jalan dari Spanyol dan Maroko dan ke timur dari India dan Cina yang akan menyadari bahwa sebuah kelompok kecil dari orang-orang yang tidak bisa memaksa orang lain untuk menjadi anggota suatu agama terhadap mereka akan. Ianya juga menarik untuk dicatat bahwa ketika Mongol menyerang dan menaklukkan besar bagian dari kerajaan Islam, bukan merusak agama mereka diadopsi it!

3.Women's right
Kesalahpahaman: Perempuan tidak memiliki hak

Gambar seorang perempuan yang memakai kerudung dari kepala ke jari kaki, seorang perempuan yang mendapat keadilan yang tidak adil atau seorang perempuan yang tidak diperbolehkan untuk drive yang terlalu akrab gagasan ketika datang ke perawatan perempuan dalam Islam. Dan sementara ada negara-negara Muslim di dunia yang melaksanakan banyak rulings tajam terhadap perempuan, ini tidak boleh digambarkan sebagai hukum Islam. Banyak dari negara-negara tersebut memiliki perbedaan budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Perlu dicatat bahwa selama Arab pra-Islam perempuan hanya digunakan untuk persundalan dan tidak memiliki kemerdekaan. Kelahiran anak perempuan dalam keluarga dianggap menghinakan dan praktik anak perempuan yang tak terkendalikan. Ketika Islam datang ke ini, ayat-ayat dalam Quran dikutuk praktik anak perempuan. Islam banyak memberi kembali ke hak asasi manusia perempuan dan Muhammad (s) bahkan melaporkan bahwa "perempuan adalah memperdua kembar laki-laki." A Muslim perempuan diperbolehkan untuk menolak dan menerima pelamar untuk menikah dan mempunyai hak untuk mencari perceraian. Tidak ada apa-apa dalam Islam yang melarang seorang muslim wanita keluar dari rumahnya dan boleh berkendara. Juga dalam hal pendidikan, seorang wanita wajib untuk mencari pengetahuan dan dianggap sebagai dosa jika ia menolak.

4.Muslim Savages
Kesalahpahaman: Islam adalah kejam dan savages selama perang

Cukup Sebaliknya, bila perlu untuk melakukan perang ada aturan bahwa setiap sepuluh tentara Muslim harus mematuhi:

1. Jangan melakukan pengkhianatan
2. Tidak menyimpang dari jalan
3. Jangan memuntungkan mayat
4. Jangan membunuh anak-anak
5. Jangan membunuh perempuan
6. Jangan membunuh laki-laki berusia
7. Tidak membahayakan atau membakar pohon-pohon
8. Jangan menghancurkan bangunan
9. Jangan memusnahkan musuh dari kawanan, kecuali jika Anda menggunakannya untuk makanan
10. Bila Anda melewati orang-orang yang dikhususkan untuk kehidupan monastik layanan biarkan mereka sendirian

Selama crusades Salahuddin ketika ia dikalahkan franks yang terhormat yang dikalahkan Frankish tentara dan disertakan dengan makanan mereka dan selama tiga usaha ketika Saladin dari musuh raja Richard jatuh sakit, Saladin dikirim dia hadiah buah-buahan dan kuda.

5.Child bride
Kesalahpahaman: Nabi Muhammad adalah pedophile

Nabi Muhammad saw menikahi gadis berusia 9 tahun tidak ada buktinya,Walaupun seandainya memang dia menikahi seorang gadis berusia sembilan tahun,itu tidak merupakan pedophilia. Secara historis, usia di mana seorang gadis dianggap siap untuk menikah telah puberty. Ini merupakan kasus di Biblika kali, dan sekarang masih digunakan untuk menentukan usia perkawinan di berbagai belahan dunia. Ini merupakan bagian dari norma dan bukan merupakan sesuatu yang invented Islam. The girl ia telah menikah untuk mencapai masa pubertas 3 tahun sebelum menikah. Hal ini setelah mencapai usia masa remaja bahwa seseorang, laki-laki atau perempuan, menjadi hukum yang bertanggung jawab untuk tindakan mereka di bawah hukum Islam. Pada tahap ini, mereka diizinkan untuk membuat keputusan mereka sendiri dan bertanggung diadakan untuk mereka. Ia juga harus menyebutkan bahwa dalam Islam, adalah haram untuk memaksa seseorang untuk menikahi seseorang yang mereka tidak ingin menikah. Tidak ada indikasi bahwa pada waktu itu dikritik perkawinan ini disebabkan oleh gadis muda usia. Sebaliknya, perkawinan itu didorong oleh gadis yang dari keluarga dan telah disambut oleh masyarakat luas.

6.Islamic Jihad
Kesalahpahaman: Jihad berarti berjuang demi Tuhan

Arab yang benar arti kata jihad adalah perjuangan. Namun dalam Islam ini sering digunakan untuk menjelaskan berjuang di jalan Tuhan. Ada banyak bentuk jihad tetapi yang paling penting adalah Jihad al-nafs (jihad melawan diri orang), jihad bil-lisan (jihad dengan menjadi vokal), jihad bil yad (jihad dengan menggunakan tindakan), dan Jihad bis saif (jihad dengan menggunakan pedang). Setiap jihad diranking berbeda dan dilaporkan bahwa Muhammad kembali dari peperangan dan berkata: "Kami telah kembali dari jihad yang lebih rendah (yang terjadi dalam peperangan) ke jihad yang lebih besar (perjuangan jiwa)." Ini berarti bahwa seorang Muslim berjuang melawan dirinya dan jiwa adalah lebih penting daripada jihad yang terjadi dalam perang. Kesalahpahaman lain adalah bahwa hanya bila orang meninggal dalam perang tidak menjadi orang yang syahid. Hal ini, bagaimanapun, palsu dan ia percaya bahwa setiap orang melakukan sesuatu untuk kepentingan tuhan dan menjadi syahid terbunuh. Seseorang yang meninggal saat melaksanakan haji di Mekkah, seorang wanita yang meninggal saat melahirkan, atau bahkan seseorang yang mati dalam mobil crash ketika ia pada jalan ke masjid semua dianggap martir.

7.Religious intolerance
Kesalahpahaman:Islam adalah tiada Toleransi terhadap agama lain

"Bunuhlah yang infidel 'adalah frasa banyak orang percaya adalah ideologi yang memiliki umat Islam terhadap non muslim. Ini, namun, bukanlah benar memerankan Islam hukum. Islam selalu menghormati dan memberikan kebebasan agama bagi semua agama. Dalam Quran itu mengatakan "Allah tidak melarang kamu, dalam hal orang-orang yang memerangi kamu bukan untuk agama dan mengusir kamu dari rumahmu, dari menangani hormat dan adil dengan mereka, sebab Tuhan mengasihi orang-orang yang adil." Ada sejarah banyak contoh toleransi muslim terhadap agama lain. Salah satu contoh adalah ketika kalif Umar adalah penguasa Yerusalem dari 634-644 AD. Dia memberikan kebebasan kepada semua agama dan masyarakat mengatakan kepada penduduk kota yang aman dan tempat-tempat ibadah mereka tidak akan diambil dari mereka. Dia juga menyiapkan pengadilan yang ditujukan kepada non Muslim minoritas. Setiap kali dia akan mengunjungi tempat suci ia akan meminta kepala keluarga Kristen Sophronius (digambarkan di atas) untuk menemani dia.

8.Children's Right
Kesalahpahaman: Anak-anak tidak memiliki hak

Anak-anak, menurut hukum Islam, ada berbagai hak. Salah satunya adalah hak untuk benar membawa atas, dibangkitkan, dan pendidikan. Islam mendorong anak-anak untuk dibawa sampai dengan baik karena ia adalah tanggung jawab seorang dewasa untuk meningkatkan anaknya untuk menjadi moral dan etika dewasa. Anak-anak juga harus diperlakukan sama. Ketika memberikan hadiah keuangan mereka semua harus menjadi sama dan tidak ada pilihan di antara mereka. Bahkan anak-anak yang sedang diijinkan untuk mengambil dari kekayaan orang tua mereka untuk mempertahankan diri jika orang tua mereka menolak untuk memberikan dana untuk hidup benar. Seorang anak juga tidak diperbolehkan untuk mendapatkan hit di wajah atau terkena sesuatu yang lebih besar dari sebuah pensil.

9.Muslims and Yesus
Kesalahpahaman: Muslim Hate Yesus

Ada banyak kesamaan antara sejarah referensi dari Kekristianan dan Islam. Banyak orang kagum untuk mengetahui bahwa menurut kepercayaan Muslim, Yesus adalah salah satu yang paling besar utusan Allah. Satu tidak dapat seorang Muslim tanpa percaya pada dara kelahiran dan banyak mukjizat Yesus Kristus. Yesus juga disebut dalam banyak ayat-ayat Quran dan lebih sering digunakan sebagai contoh yang baik dan kebaikan karakter. Namun, perbedaan antara Kristen dan Islam adalah bahwa umat Islam tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Digambarkan di atas adalah Yesus dalam Islam memerankan penghakiman yang terakhir.

10.Muslims are arab
Kesalahpahaman: Semua umat Islam adalah Arab

The Common gambar seorang Muslim adalah orang Arab memakai serban gelap dengan janggut panjang. Namun gambar ini adalah bagian dari umat Islam yang minoritas. Arab membuat hanya 15% dari populasi dunia Muslim. Sesungguhnya Timur Tengah datang di Asia Timur dengan ketiga datang pada pertama (69%) dan Afrika (27%) pada kedatangan kedua. Common kesalahpahaman lain adalah bahwa semua Arab adalah Islam. Sementara mayoritas Arab adalah Islam (75%), ada banyak agama lain yang termasuk amalan Arab Kristen dan Judaisme

sumber: http://woamu.blogspot.com/2009/08/10-kesalahpahaman-tentang-islam.html


Lanjutkan